Cilacap-Central Publikasi.Com-Petani di Desa Bulaksari, Kecamatan Bantarsari, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah berhasil mengolah kotoran sapi menjadi pupuk organik (kompos).
Pengembangan pupuk organik ini berawal dari bantuan Program Unit Pengolahan Pupuk Organik (UPPO) pada tahun 2024 lalu, yang kemudian dimanfaatkan para petani di desa setempat yang tergabung dalam Kelompok Tani Sido Makmur.
Adapun UPPO ini merupakan program dari mantan Anggota DPR RI Sunarna kala itu, diantaranya bantuan delapan ekor sapi, mesin pengolahan pupuk beserta unit rumah kompos.
Ketua Kelompok Tani Sido Makmur Desa Bulaksari Samingan mengatakan, inoviasi ini dilakukan sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.
Samingan mengaku bersama anggota telah lama memproduksi pupuk organik sebelum memperoleh bantuan UPPO ini. Sehingga proses produksi langsung berjalan setelah bantuan diterima.
“Sebelumnya, kami sudah memproduksi pupuk organik ini berbahan olahan kotoran ternak, dan kebetulan kami dapat bantuan sapi dari Bapak Sunarna, kemudian kami manfaatkan kotoran sapinya, kami olah,” ujarnya, Senin (18/5/2026).
Lebih lanjut, kotoran sapi ini diolah mereka menggunakan bantuan mesin pengolahan pupuk menjadi pupuk organik. Sedangkan proses pengolahan kotoran sapi menjadi pupuk organik ini dilakukan melalui fermentasi dan pengomposan.
Sementara saat proses pengeringan sangat bergantung pada kondisi cuaca sehingga memengaruhi kapasitas produksi pupuk setiap bulannya.
Samingan mengutarakan, permintaan pasar terhadap pupuk organik ini sangat baik, hanya saja terkendala pada proses pengeringan.
“Kalau cuaca mendukung, setiap bulannya kami bisa memproduksi sekitar satu ton pupuk organik,” ungkapnya.
Sedangkan untuk pemasaran pupuk organik ini, masih difokuskan di wilayah Kabupaten Cilacap. Harga per kantongnya bervariasi, tergantung jumlah pembelian dan jarak pengiriman.
“Kami jual ke pedagang tanaman hias dan para petani dengan harga Rp7 ribu sampai Rp10 ribu per kantong, tergantung jumlah pembelian dan jarak pengirimannya,” jelas Samingan.
Ia menilai, ketergantungan terhadap pupuk kimia perlu dikurangi. Selain memulihkan kesuburan tanah, menekan biaya produksi yang tinggi, serta menjaga kesehatan lingkungan.
“Kami dorong petani yang lain, selain pakai pupuk kimia, pakai yang pupuk organik juga. Seimbang lah, masing-masing 50 persen,” pungkas Samingan. (Purwanti).












